Sabtu, 29 Oktober 2011

KONSEPSI ILMU BUDAYA DASAR DALAM KESUSTRASAAN


            BD berasal dari kata Basic Humanities berasal dari bahasa Inggris the humanities yang artinya manusiawi, berbudaya, dan halus. Dengan mempelajari The Humanities bisa menjadikan orang lebih manusiawi, lebih berbudaya dan lebih halus. Berarti The Humanities berkaitan dengan nilai – nilai norma manusia. Pada Umumnya The Humanities mencangkup filsafat, teologi, seni, dan cabang-cabangnya termasuk sastra, sejarah, cerita rakyat dan sebagainya. Jadi Intinya the Humanities mempelajari semua masalah tentang manusia dan budaya.

Seni yang merupakan cabang dari the humanities merupakan sastra yang mempunyai peranan paling penting karena nilai-nilai kemanusiaan yang disampaikannya normatif. Ekspresi seni sifatnya tidak normatif agar lebih mudah berkomunikasi dan agar nilai yang disampaikan lebih fleksibel. Sastra mempunyai peranan penting juga karena sastra mempergunakan bahasa. Cabang seni lain pada hakekatnya juga menggunakan bahasa, namun bahasa yang digunakan masih perlu dijabarkan dan ditafsirkan lagi. Sebaliknya sastra adalah penafsiran itu sendiri.


Sumber: http://pugiepigy.blogspot.com/2010/06/konsepsi-ilmu-budaya-dasar-dalam.html

MANUSIA DAN KEBUDAYAAN, HAKEKAT MANUSIA, PERBEDAAN MANUSIA DENGAN MAKHLUK YANG LAIN, UNSUR-UNSUR.


             Manusia dan kebudayaan  terjalin hubungan sangat erat, sebagaimana diungkapkan oleh Dick Hartoko bahwa manusia merupakan kebudayaan.
Hampir semua tindakan manusia merupakan kebudayaan. Hanya yang sifatnya naluriah yang bukan merupakan kebudayaan, tindakan demikian prosentasenya sangat kecil. Tindakan yang berupa kebudayaan dibiasakan dengan cara belajar.
Hubungan antara manusia dengan kebudayaan dapat dilihat dari kedudukan manusia terhadap kebudayaan.Manusia mempunyai empat kedudukan kebudayaan :
1.      penganut kebudayaan
2.      pembawa kebudayaan
3.      manipulator kebudayaan
4.      pencipta kebudayaan.
Pembentukan kebudayaan dikarenakan manusia dihadapkan pada persoalan yang meminta pemecahan dan penyelesaian. Dalam rangka survive manusia mampu memenuhi apa yang menjadi kebutuhannya sehingga manusia melakukan berbagai cara.
Hal yang dilakukan oleh manusia inilah kebudayaan. Kebudayaan yang digunakan manusia dalam menyelesaikan masalah-masalahnya bisa kita sebut sebagai way of life, yang digunakan sebagai pedoman bertingkah laku. internalisasi, sosialisasi dan enkulturasi.Hakekat manusia adalah sebagai berikut :
  1. Makhluk memiliki tenaga dalam yang dapat menggerakkan hidupnya untuk    memenuhi kebutuhannya.
  2. Individu memiliki sifat rasional yang bertanggung jawab atas tingkah laku   intelektual dan sosial.
  3. yang mampu mengarahkan dirinya ke tujuan yang positif mampu mengatur dirinya dan  menentukan nasibnya.
  4. Makhluk dalam proses menjadi berkembang dan terus berkembang tidak  pernah selesai (tuntas).
  5. Individu yang hidupnya selalu melibatkan dirinya dalam usaha untuk dirinya sendiri, membantu orang lain dan membuat dunia lebih baik untuk ditempati
  6. Suatu keberadaan berpotensi yang perwujudanya merupakan ketakterdugaan dengan potensi.
  7. Makhluk Tuhan yang berarti ia adalah makhluk yang mengandung kemungkinan baik   dan jahat.
  8. Individu yang sangat dipengaruhi oleh lingkungan terutama lingkungan, bahkan ia tidak bisa berkembang sesuai dengan martabat kemanusiannya tanpa  hidup  dalam lingkungan sosial.

Perbedaan manusia dengan makhluk yang lain sangatlah berbeda manusia termasuk makhluk ciptaan tuhan yang sangat sempurna karena manusia mempunyai akal pikiran tidak seperti makhluk lainnya.Sedangkan Cara bergerak tumbuh-tumbuhan dan hewan berlangsung tanpa pengertian, karena mereka tidak memiliki pikiran. Jadi perbedaan antara manusia dan benda hidup yang bukan manusia, hanya terletak pada kenyataan, bahwa yang satu mempunyai pikiran, sedang yang lain tidak mempunyainya.Ada beberapa pendapat ahli yang mengemukakan mengenai komponen atau unsur kebudayaan, antara lain sebagai berikut:
  1. Melville J. Herskovits menyebutkan kebudayaan memiliki 4 unsur pokok, yaitu:
  • alat-alat teknologi
  • sistem ekonomi
  • keluarga
  • kekuasaan politik
  1. Bronislaw Malinowski mengatakan ada 4 unsur pokok yang meliputi:
  • sistem norma sosial yang memungkinkan kerja sama antara para anggota masyarakat untuk menyesuaikan diri dengan alam sekelilingnya
  • organisasi ekonomi
  • alat-alat dan lembaga-lembaga atau petugas-petugas untuk pendidikan (keluarga adalah lembaga pendidikan utama)
  • organisasi kekuatan (politik)


Sumber: http://pugiepigy.blogspot.com/2010/06/konsepsi-ilmu-budaya-dasar-dalam.html

Pengertian, tujuan, dan ruang lingkup ilmu budaya dasar


         Secara sederhana IBD adalah pengetahuan yang dapat memberikan pengetahuan dan pengertian tentang konsep-konsep yang dikembangkan mengkaji masalah-masalah manusia dan kebudayaan. Istilah IBD dikembangkan petama kali di Indonesia sebagai pengganti istilah basic humanitiesm yang berasal dari istilah bahasa Inggris “the Humanities”. Adapun istilah humanities itu sendiri berasal dari bahasa latin humnus yang astinya manusia, berbudaya dan halus. Dengan mempelajari tentang humanities seseorang akan menjadi lebih manusiawi, lebih berbudaya dan lebih halus. Dengan mempelajari the humanities seseorang akan bisa menjadi lebih manusiawi, lebih berbudaya dan lebih halus. Dengan demikian bisa dikatakan bahwa the humanities berkaitan dengan nilai-nilai manusia sebagai homo humanus atau manusia berbudaya. Agar manusia menjadi humanus, mereka harus mempelajari ilmu yaitu the humanities disamping tidak meninggalkan tanggung jawabnya sebagai manusia itu sendiri,dan terdiri dari tujuan.
       Penyajian mata kuliah ilmu budaya dasar merupakan usaha yang dapat pengetahuan dasar dan pengertian umum tentang konsep-konsep yang dikembangkan untuk mengkaji masalah-masalah manusia dan kebudayaan. Dengan demikian mata kuliah ini tidak dimaksudkan untuk mendidik ahli-ahli dalam salah satu bidang keahlian yang termasuk didalam pengetahuan budaya (the humanities) akan tetapi IBD semata-mata sebagai salah satu usaha untuk mengembangkan kepribadian mahasiswa dengan memperluas pemikiran serta kritikalnya terhadap  budaya, yang menyangkut orang lain dan alam sekitarnya, maupun yang menyangkut dirinya sendiri. Untuk bisa menjangkau tujuan tersebut IBD diharapkan dapat :
1.Mahasiswa perlu mengenal lebih mendalam dirinya sendiri sebagai manusia maupun orang lain yang sebelumnya dikenal luarnya saja,misalnya pemikiran dan perasaannya.

2.Mahasiswa perlu lebih mengenal perilaku diri sendiri maupun orang lain sebagai bekal penting untuk pergaulan hidup.

3.Mahasiswa perlu bersikap luwes dalam pergaulan setelah mendalami jiwa dan perasaan manusia,serta tahu masalah perilaku manusia.

4.Mahasiswa perlu tanggap terhadap budaya manusia secara mendalam sehingga intens terhadap masalah,pemikiran,perasaan,serta perilaku manusia,dan ketentuan.

       Bertitik tolak dari kerangka tujuan yang telah ditetapkan, dua masalah pokok bisa dipakai sebagai bahan pertimbangan untuk menentukan ruang lingkup kajian mata kuliah IBD. Kedua masalah pokok itu adalah :  

1.Berbagai aspek kehidupan yang seluruhnya merupakan ungkapan masalah kemanusiaan dan budaya yang dapat didekati dengan menggunakan pengetahuan budaya (the humanities), baik dari segi masing-masing keahlian (disiplin) didalam pengetahuan budaya, maupun secara gabungan (antar bidang) berbagai disiplin dalam pengetahuan budaya.
2.Hakekat manusia yang satu universal, tetapi beraneka ragam perwujudannya dalam kebudayaan masing-masing jaman dan tempat.
Menilik kedua pokok masalah yang bisa dikaji dalam mata kuliah IBD, nampak  jelas bahwa manusia menempati posisi sentral  pengkajian. Manusia tidak hanya sebagai obyek pengkajian. Bagaimana hubungan dengan alam, dengan sesame, dirinya sendiri, nilai-nilai manusia dan bagaimana pula hubungan dengan sang pencipta menjadi tema sentral dalam IBD. Pokok-pokok bahasan yang dikembangkan adalah :

1.Manusia dan cinta kasih
2.Manusia dan Keindahan
3.Manusia dan Penderitaan
4.Manusia dan Keadilan
5.Manusia dan Pandangan hidup
6.Manusia dan tanggungjawab serta pengabdian
7.Manusia dan kegelisahan
8.Manusia dan harapan

Senin, 10 Oktober 2011

Historia de la psicología II, una ciencia nace y evoluciona (Sejarah Psikologi II, ilmu lahir dan berkembang)

        Spekulasi tidak cukup untuk menghasilkan pengetahuan ilmiah yang dapat diandalkan, apakah ini perlu bahwa studi tentang pikiran datang dengan twist. Wilhelm Wundt, bapak psikologi, tahun 1879 di Leipzig (Jerman) mendirikan laboratorium formal pertama dari psikologi eksperimental. Dia propueso mempelajari pikiran dari sebuah bentuk eksperimental, menekankan studi tentang struktur kesadaran, persepsi dan pikiran secara umum (pendekatan yang dikenal sebagai strukturalisme). Untuk tujuan ini ia menggunakan banyak metode, seperti mengukur waktu respon subjek dengan stimulus serta técnina panggilan introspeksi diminta untuk menggambarkan subjek eksperimental secara rinci apa yang mereka alami terhadap stimulus yang spesifik. Disiplin baru ini cukup sukses dan cepat menyebar ilmu baru dari benua Amerika, khususnya di Amerika Serikat.

Beberapa waktu berlalu dan kritik strukturalisme tidak dibiarkan menunggu. Strukturalisme mulai menunjukkan ketidakmampuannya untuk benar-benar tahu struktur mental terutama karena introspeksi telah disebutkan. Ini benar-benar bukan metode ilmiah, karena sangat sulit untuk mengkonfirmasi keakuratan apa yang dikatakan subjek dan di sisi lain mata pelajaran yang telah kesulitan mengekspresikan pengalaman subyektif mereka. William James, seorang psikolog Amerika terkemuka. dan penulis "Prinsip Psikologi" (karya dua volume, yang dianggap oleh banyak orang sebagai buku terbaik yang pernah ditulis psikologi) pada tahun 1890, adalah pemimpin dari sebuah perspektif baru muncul dalam fungsionalisme psikologi. Perspektif, yang dominan di awal 1900-an, percaya bahwa psikologi harus menekankan mengapa dan bagaimana perilaku dan proses mental, mereka melihat tujuan berdasarkan adaptif terhadap lingkungan. Sementara itu di Jerman mengembangkan psikologi Gestalt yang dipimpin oleh M. Wertheimer dan W. Kohler, juga dalam menanggapi estrcturalismo, sekolah ini terutama dikhususkan untuk mempelajari persepsi dan menjadi terkenal dengan kalimat terkenal "keseluruhan adalah lebih besar daripada jumlah bagian-bagiannya".

     Anda menghabiskan dekade pertama abad ini XX, dan seorang psikolog Amerika bernama John Watson serangan psikologi yang berlaku dengan publikasi yang berjudul: The Psychology sebagai behavioris melihatnya. Berdasarkan penelitian pengkondisian Pavlov, mengangkat sebuah penghapusan konsep mentalistik (seperti "kesadaran", misalnya) dan mendukung gagasan bahwa psikologi harus fokus hanya pada perilaku yang dapat diamati. Pendekatan ini berpendapat bahwa semua hewan terlahir sebagai tabula rasa, tanpa pengetahuan sebelumnya dan bahwa semua perilaku, begitu canggih itu, hanya akan produk dari pengalaman dan pengkondisian, jenis yang berhubungan belajar di mana dua rangsangan yang berbeda. Ide ini dengan cepat memegang dan berlaku untuk beberapa waktu, B. F. Skinner (seorang psikolog eksperimental terkemuka di Harvard) akan bertanggung jawab untuk mengikuti perkembangan teori perilaku, yang mengarah ke sinyal kesia-siaan konsep mentalistik, karena ia percaya bahwa semua perilaku dijelaskan dengan pengamatan hanya perilaku dan postulat behaviorisme. Penjelasan untuk perilaku ini begitu dikenal konsep-konsep seperti "stimulus" dan "respon".